Setiap hari begitu berarti …. (bagiku)

Ketika hati ingin bicara. Ada respon dari pikiran kita. Keduanya saling membaca, menawarkan kesepakatan-kesepakatan, menentukan pilihan-pilihan, mana yang pantas diperbincangkan, mana yang layak dipublikasikan. Ketika ada kesepakatan, tangan digerakan, … jari jemari menunggu perintah.

Tujuh belas hari sudah terlewati dalam bulan Januari ini. Begitu banyak dan beragam peristiwa yang menghiasi hari-hariku. Hitam putihnya hidup tetap akan selalu bergantian menyelingi setiap lembar kehidupanku. Aku tetap dan harus selalu mensyukurinya, apapun itu. Dari kita masih berada didalam kandungan , dari kita masih berupa segumpal darah, dari kita pertama kali diberi kehidupan, Tuhan sudah menetapkan garis kehidupan dan takdir kita. Tugas kita hanya menjalankan apa yang diperintahkanNya.

Kalimat yang sederhana, begitu mudah dan sangat dimengerti. Apakah benar semudah itu? Ternyata tidak! Akan banyak godaan, cobaan dan ujian dalam menjalaninya. Sebenarnya hanya ada satu jalan yang lurus sudah disediakan Tuhan dihadapan kita. Satu langkah saja kita terpeleset seluruh bagian tubuh kita ikut menanggungnya. Tetapi Tuhan itu maha Pemurah, maha Pengampun, Dia akan memberi kesempatan pada kita untuk menyeimbangkan lagi langkah kita. Hanya saja, kita sebagai manusia selalu ingin mengulang dan mengulangi kesalahan yang sudah kita perbuat, padahal kita tahu dan sadar bahwa sesungguhnya hal itu salah.

Sesungguhnya kita bisa menyetir pikiran kita. Bisa karena biasa. Sebelumnya aku set alarm jam 4.50 pagi,  atau jam 3.00 dini hari kalau itu di bulan ramadhan, begitu tiap hari, aku bangun saat alarm berbunyi. Hari-hari berikutnya, sebelum alarm berbunyi aku sudah terbangun duluan, seolah pikiranku yang di-set untuk bangun pada jam-jam tersebut.

Diawali pagi yang masih dingin, sampai sedikit demi sedikit matahari naik memberi kehangatan, sampai  arah matahari ada tepat diatas kepala kita, hingga matahari mulai condong lagi bersembunyi di kaki langit, akhirnya berganti malam. Pada saat inilah kita memutar ulang apa saja yang sudah kita lakukan dari mulai kita bangun hingga menjelang mau tidur. Seberapa banyak kita melakukan hal positif, itu yang paling penting.

Kejujuran. Satu kata ini modal utama yang harus aku pegang. Betapa aku harus berusaha untuk selalu berkata dan bersikap jujur. Walau kadang tidak setiap kejujuran yang aku lakukan berimbas baik buatku. Aku berusaha menjaga setiap lisanku agar jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Namun hal ini belum tentu diterima dan diartikan baik oleh beberapa orang.  Dari pengalaman itu, ada beberapa hal yang memang tidak perlu kita sampaikan dan harus kita simpan dalam hati. Tetapi yang terpenting bagiku adalah baik menurut Tuhan, bukan baik menurutku atau menurut beberapa orang.

Ada banyak alasan mengapa aku harus selalu bersyukur, karena begitu banyak nikmat yang sudah Tuhan berikan kepadaku. Mungkin orang lain lebih banyak lagi merasakan nikmat dibandingkan aku, tapi bagiku setiap sesuatu yang sudah aku rasakan sampai detik ini, tidak akan sama dengan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Kegagalan dan kekecewaan dalam suatu hal itu wajar. Bangkit kembali dari keterpurukan itu diperlukan. Kita harus punya semangat, spirit dari diri kita sendiri paling penting. Kita belum tentu bisa bangun kalau kita belum pernah jatuh.

Masa lalu buatku ibarat cermin. Kita bisa memandang sesuatu di belakang kita tanpa harus menoleh. Saat kita bercermin, pandangan kita tertuju ke depan memandang bayangan diri kita. Jika kita merasa ada sesuatu yang kurang kita akan berusaha mematutnya agar terlihat lebih sempurna. Begitu pun dengan masa lalu, kita tak akan bisa kembali ke masa itu, namun setidaknya kita bisa berpijak dari pengalaman masa lalu untuk bisa memperbaiki diri agar hidup kita lebih berarti.

*Jarak yang paling jauh adalah masa lalu, walaupun baru kemarin, kita tak akan bisa menjangkaunya