WALI SONGO

walisongo

WALI SONGO

1. Sunan Gresik ( Maulana Malik Ibrahim )
Pertengahan abad ke 14 – 1419, Makam di Gresik
Selain dikenal dengan nama Maulana Malik Ibrahim, Sunan Gresik juga dikenal dengan nama Maulana Magribi ( Syekh Magribi ) karena diduga berasal dari wilayah Magribi ( Afrika Utara ). Sunan Gresik diyakini sebagai pelopor penyebaran agama Islam di Jawa. Ia berdakwah secara intensif dan bijaksana. Sunan Gresik bukan orang Jawa, namun ia mampu mengantisipasi keadaan masyarakat yang dihadapinya dan menerapkan metode dakwah yang tepat untuk menarik simpati masyarakat terhadap Islam. Upaya menghilangkan sistem kasta dalam masyarakat pada masa itu menjadi objek dakwah Sunan Gresik.
2. Sunan Ampel ( Raden Rahmat )
1401 – 1481 , Makam di Ampel
Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Ia adalah putra Sunan Gresik. Sunan Ampel memulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta ( dekat Surabaya ), sehingga ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren pertama di Jawa Timur. Sunan Ampel dikenal sebagai wali yang tidak setuju terhadap adat istiadat masyarakat Jawa pada masa itu, seperti kebiasaan mengadakan sesaji dan selamatan. Akan tetapi, para wali lain berpendapat bahwa hal itu tidak bisa dihilangkan dengan cepat. Mereka bahkan mengusulkan agar adat istiadat seperti itu diberi warna Islam. Akhirnya Sunan Ampel menyetujui usul ini, walaupun ia tetap khawatir bahwa hal itu akan berkembang menjadi bid’ah.
3. Sunan Giri ( Raden Paku )
Pertengahan abad ke 15 – awal  abad ke 16 ,  Makam di Gresik
Nama asli  Sunan Giri adalah Raden Paku. Selain menjadi murid Sunan Ampel, ia juga memperdalam ilmu agama di Pasai yang ketika itu menjadi tempat perkembangan ilmu ketuhanan, keimanan, dan tasawuf. Raden Paku memperoleh ilmu agama di Pasai sampai pada tingkat ilmu laduni ( ilmu yang diperoleh seseorang tanpa proses belajar ), sehingga dianugrahi gelar ‘ain al-yaqiin ( keyakinan yang nyata ). Karena itulah ia kadang-kadang dikenal masyarakat dengan sebutan Raden Ainul Yakin. Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Santrinya banyak berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah. Ia juga banyak mengirim juru dakwah ke Bawean ( Madura ) bahkan juga ke Lombok serta Ternate dan Tidore di Maluku.
4. Sunan Bonang ( Raden Maulana Makhdum Ibrahim )
1465 – 1525  , Makam di Tuban
Sunan Bonang dikenal nama Raden Maulana Makhdun Ibrahim, ia adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang dalam menyebarkan agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang menggemari wayang dan musik gamelan. Untuk itu ia menciptakan gending-gending yang memiliki nilai keislaman. Setiap bait lagu diselingi dengan ucapan dua kalimat syahadat, sehingga musik gamelan yang mengiringinya kini dikenal dengan istilah “sekaten”.
5. Sunan Drajat ( Raden Kosim Syarifuddin )
1470 – pertengahan abad ke 16  , Makam di Gresik
Nama asli Sunan Drajat adalah Raden Kosim Syarifuddin. Ia adalah putra Sunan Ampel. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah sosial. Ia banyak membantu yatim piatu, fakir miskin, orang sakit, dan orang sengsara. Perhatiannya yang besar terhadap masalah sosial sangat tepat karena saat itu Kerajaan Majapahit tengah runtuh ( sekitar 1478 ) dan rakyat sedang mengalami suasana kritis serta prihatin. Sunan Drajat juga menggunakanmedia kesenian dalam berdakwah. Untuk iut ia menciptakan tembang Jawa ( tembang pangkur ) yang hingga kini masih digemari.
6. Sunan Gunung Jati ( Syarif Hidayatullah )
1448 – 1570  , Makam di Cirebon
Nama asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah. Ia adalah cucu Prabu Siliwangi ( Raja Pajajaran). Sunan Gunung Jati merupakan salah seorang Wali Songo yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, khususnya Cirebon. Ia juga merupakan pendiri dinasti Kesultanan Banten yang dimulai dari putranya, Sultan Maulana Hasanudin. Atas prakasa Sunan Gunung  Jati , dilakukanlah penyerangan ke Sunda Kelapa pada 1527 dibawah pimpinan Fatahilla, panglima perang Kesultanan Demak yang juga menantu Sunan Gunung Jati.
7. Sunan Kudus ( Raden Ja’far Sadiq )
abad ke 15 – 1550  , Makam di Kudus
Nama asli Sunan Kudus adalah Raden Ja’far Sadiq. Ia adalah putra Usman Haji yang menyiarkan Islam di daerah Jirang Panolan, Blora. Sunan Kudus memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam bidang ilmu fikih, tauhid, hadis, tafsir, dan logika. Karena itulah ia mendapat julukan wali al-ilmi ( orang yang luas ilmunya ). Sunan Kudus banyak didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai wilayah karena keahlian yang dimiliknya. Ia juga dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus. Karena itu, ia menjadi pemimpin agama sekaligus pemimpin pemerintahan di wilayah itu.
8. Sunan Kalijaga ( Raden Mas Syahid )
akhir abad ke 14 – pertengahan abad ke 15  , Makam di Demak
Nama asli Sunan Gunung Kalijaga adalah Raden Mas Syahid. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatika ( bupati Tuban ). Nama Kalijaga berasal dari bahasa Arab qadi zaka ( kali jaga ) yang berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kesucian. Sunan Kalijaga melakukan dakwah dengan cara berkelana. Karena wawasannya luas dan pemikirannya tajam, Sunan Kalijaga tidak hanya disukai oleh rakyat, tetapi juga oleh para cendekiawan dan penguasa. Sunan Kalijaga juga dikenal sebgai budayawan dan seniman. Ia menciptakan aneka cerita wayang yang bernafaskan Islam. Sunan Kalijaga memperkenalkan bentuk wayang yang dibuat dari kulit kambing ( wayang kulit ) karena masa itu wayang populer dilukis pada semacam kertas lebar ( wayang beber ). Dalam seni suara, ia adalah pencipta lagu “dandanggula”.
9. Sunan Muria ( Raden Said / Raden Prawoto )
abad ke 15 – abad ke 16  , Makam di Jepara
Nama asli Sunan Muria adalah Raden Said atau Raden Prawoto. Ia adalah putra Sunan Kalijaga. Dalam menyiarkan agama Islam, Sunan Muria selalu menjadikan desa-desa terpencil sebagai tempat operasinya dengan mengadakan kursus bagi kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat biasa. Sunan Muria menggunakan kesenian sebagai sarana berdakwah. Dua tembang yang diciptakannya dan sangat terkenal adalah tembang “sinom” dan “kinanti”. Tembang sinom umumnya melukiskan suasana ramah tamah dan berisi nasehat, sedangkan tembang kinanti yang bernada gembira digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, nasihat, dan filsafat hidup.
About these ads

~ by Elly Rosali on 19 December, 2010.

One Response to “WALI SONGO”

  1. Check this out…

    The information mentioned in the article are some of the best available…

Say something ... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Rumah Kecil 13

Take 'Rumah Kecil 13' as comfortable place in your life

Flaschenpost

125˚ EAST / 1˚ NORTH

Jaka Grosir On Line

Grosir Baju Anak Dan Dewasa

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

Arip Blog

Coretan, Catutan dan Cacatnya Harian Arif Abdurahman

NengWie

Lelengkah halu di Pangumbara'an

Wind Against Current

Thoughts on kayaking, science, and life

sianakdesa

-just another part of me-

Flickr Comments

I'm introducing for more than 2,500 subscribers daily photos + photographers (and a little music)

LIFE AS I SEE IT

my uncomplicated simple life

A Shade Of Pen

A journey of exploration of my ownself and yours as well!

Jared Gulian - Author and olive farmer

Author of 'Moon Over Martinborough: How an American city boy became a Kiwi farmer'

Bams' Blog

FAMILY | FRIENDSHIP | PHOTOGRAPHY | BUSINESS |

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Blog Deni Mulyadi

Berbagi Ilmu dengan Media Blog

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Matahari Senja

melukis pendar cahaya untuk dunia...

Hujan Jam 13

".......Sebagaimana Hujan Yang Purba......"

%d bloggers like this: